KABAR PANGANDARAN – Upaya meningkatkan profesionalisme dan keselamatan wisata tirta terus dilakukan oleh para pelaku wisata di Pangandaran. Salah satunya melalui kegiatan Pelatihan dan Sertifikasi Lifeguard Training Stand Up Paddle yang menjadi syarat untuk memperoleh sertifikat resmi dari Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP).
Kegiatan ini diikuti oleh para pemandu paddle board yang secara swadaya berinisiatif meningkatkan kompetensi mereka sebagai garda terdepan dalam menjaga keselamatan wisatawan di kawasan pantai. Pelatihan ini tidak hanya menitikberatkan pada kemampuan teknis, tetapi juga aspek keselamatan, komunikasi, hingga penanganan darurat di laut.
Ketua Balawista Pangandaran yang juga bertindak sebagai instruktur pelatihan, Dodo Taryana, menjelaskan bahwa tujuan utama dari kegiatan ini adalah mencetak pemandu yang kompeten dan tersertifikasi secara nasional. Menurutnya, peserta yang telah mengikuti pendidikan dan pelatihan (diklat) Balawista yang diselenggarakan oleh Pusdiklat Balawista Nasional memiliki kesempatan untuk mengikuti uji kompetensi BNSP.
“Setelah mengikuti diklat Balawista, peserta berhak mengikuti sertifikasi BNSP. Namun, kelulusan tetap ditentukan oleh kemampuan masing-masing peserta saat diuji oleh asesor. Dari situlah akan dinilai apakah mereka layak mendapatkan sertifikat atau tidak,” ujar Dodo.Rabu, 15 April 2026.
Ia juga menambahkan bahwa sertifikat kompetensi yang dikeluarkan oleh BNSP memiliki masa berlaku selama tiga tahun. Oleh karena itu, para pemandu diharapkan terus meningkatkan keterampilan dan memperbarui sertifikasi secara berkala agar tetap sesuai dengan standar keselamatan yang berlaku.
Dalam pelatihan ini, peserta dibekali dengan 19 materi praktik lapangan yang mencakup berbagai aspek penting dalam keselamatan wisata tirta. Materi tersebut antara lain meliputi persiapan peralatan dan perlengkapan pemanduan, penerapan prosedur keselamatan, kesehatan, dan keamanan kerja (K3), hingga upaya pencegahan risiko dan bahaya di area wisata.
Selain itu, peserta juga dilatih untuk melaksanakan tugas pengawasan keselamatan, menjalankan instruksi atasan, serta melakukan berbagai teknik penyelamatan korban tenggelam baik tanpa peralatan maupun menggunakan alat bantu. Penanganan kondisi darurat seperti korban pingsan, patah tulang, hingga tindakan resusitasi jantung paru (CPR) juga menjadi bagian penting dalam pelatihan ini.
Tidak hanya aspek teknis, kemampuan komunikasi juga menjadi perhatian, termasuk komunikasi lisan dalam Bahasa Inggris pada tingkat operasional menengah. Hal ini dinilai penting mengingat Pangandaran merupakan destinasi wisata yang kerap dikunjungi wisatawan mancanegara.
Para peserta juga diajarkan untuk menyusun laporan kejadian, melakukan koordinasi pengawasan keselamatan, hingga memberikan mentoring kepada rekan kerja. Pengelolaan peralatan penyelamatan serta evaluasi penanganan korban kecelakaan juga menjadi bagian dari kurikulum pelatihan.
Dengan adanya pelatihan dan sertifikasi ini, diharapkan para pemandu paddle board di Pangandaran semakin profesional dan siap menghadapi berbagai situasi di lapangan. Langkah ini sekaligus menjadi bagian dari upaya meningkatkan standar keselamatan wisata tirta, sehingga wisatawan dapat menikmati aktivitas di laut dengan rasa aman dan nyaman.***






