KABAR PANGANDARAN – Suasana ngabuburit di kawasan Bundaran Marlin, Kabupaten Pangandaran, mendadak terasa berbeda. Di tengah ramainya warga menanti waktu berbuka puasa, jajaran Polres Pangandaran turun langsung ke jalan. Namun, bukan razia yang menjadi fokus utama, melainkan aksi simpatik dengan membagikan coklat hingga Al-Qur’an kepada para pengguna jalan yang tertib berlalu lintas.
Menjelang waktu Maghrib, arus kendaraan di sekitar bundaran memang meningkat signifikan. Warga memadati kawasan tersebut untuk berburu takjil, sekadar berkeliling menikmati suasana sore Ramadan, atau dalam perjalanan pulang ke rumah. Momentum inilah yang dimanfaatkan aparat kepolisian untuk menghadirkan edukasi dengan pendekatan berbeda.
Satu per satu pengendara dihentikan. Petugas memeriksa kelengkapan berkendara seperti helm, spion, serta surat-surat kendaraan. Namun suasana yang biasanya menegangkan berubah menjadi hangat. Pengendara yang dinilai lengkap dan patuh aturan justru mendapat hadiah manis berupa coklat. Bahkan, beberapa di antaranya menerima bingkisan Al-Qur’an sebagai bentuk apresiasi atas kedisiplinan mereka.
Kapolres Pangandaran, Ikrar Potawari, menjelaskan bahwa kegiatan tersebut merupakan bagian dari upaya menciptakan keamanan dan ketertiban lalu lintas selama Ramadan, khususnya pada jam-jam rawan seperti ngabuburit.
“Kami ingin menunjukkan bahwa tertib berlalu lintas bukan semata soal penindakan. Ini tentang membangun kesadaran dan menjaga keselamatan. Di bulan Ramadan, kami kemas dengan pendekatan yang lebih humanis. Ada coklat dan juga Al-Qur’an sebagai bentuk apresiasi,” ujarnya.
Menurutnya, Bundaran Marlin menjadi titik strategis karena hampir setiap sore dipadati kendaraan. Tanpa pengaturan dan kesadaran bersama, potensi pelanggaran hingga kecelakaan bisa meningkat. Karena itu, langkah persuasif dinilai lebih efektif untuk menyentuh kesadaran masyarakat.
Sementara itu, Kasat Lantas Polres Pangandaran, Yudi Risnandar, menegaskan bahwa kegiatan ini juga menjadi bagian dari kampanye keselamatan berlalu lintas selama Ramadan.
“Kami mengedepankan edukasi. Pengendara yang lengkap kami beri apresiasi. Yang belum lengkap kami tegur secara humanis dan diingatkan agar segera melengkapi perlengkapan keselamatan,” katanya.
Ia menambahkan, waktu menjelang berbuka puasa kerap menjadi jam rawan pelanggaran, terutama bagi pengendara muda yang terburu-buru ingin segera sampai tujuan. Padahal, tergesa-gesa di jalan dapat berujung fatal.
“Kami mengimbau masyarakat agar tidak mengejar waktu berbuka dengan mengabaikan keselamatan. Helm, spion, dan surat-surat kendaraan adalah hal dasar yang wajib dipenuhi,” tegasnya.
Pembagian Al-Qur’an pun bukan tanpa makna. Menurutnya, Ramadan adalah momentum memperbaiki diri, termasuk dalam hal kedisiplinan di jalan raya. Tertib berlalu lintas dinilai sebagai bagian dari ibadah karena menjaga keselamatan diri sendiri dan orang lain.
Salah seorang pengendara, Resta (22), mengaku terkejut saat diberhentikan petugas. Namun rasa cemasnya berubah menjadi senyum ketika menerima coklat karena dinilai lengkap. “Biasanya kalau diberhentikan deg-degan. Ini malah dikasih coklat. Jadi makin semangat buat tetap tertib,” ujarnya.
Menjelang adzan Maghrib berkumandang, arus lalu lintas tetap terkendali. Ngabuburit kali ini tak sekadar menunggu bedug berbunyi, tetapi juga menjadi momen penyadaran bahwa keselamatan di jalan adalah tanggung jawab bersama—dibagikan dengan cara yang manis, sejuk, dan penuh makna Ramadan.






