Berita  

Tradisi Bakar Sate Warnai Perayaan Idul Adha di Pangandaran

Momen Warga Sedang Nyate Daging Kurban Di Parigi Pangandaran.Jumat,6 Juni 2025.(M Jerry/KP).***

KABAR PANGANDARAN – Hari Raya Idul Adha selalu menjadi momen istimewa bagi umat Muslim di seluruh dunia, tak terkecuali bagi warga Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat. Perayaan hari besar Islam yang identik dengan penyembelihan hewan kurban ini bukan hanya sekadar bentuk ibadah, tetapi juga menjadi ajang mempererat tali silaturahmi antar warga.

Setiap tahunnya, masyarakat Pangandaran merayakan Idul Adha dengan penuh suka cita. Setelah pelaksanaan salat dan prosesi penyembelihan hewan kurban, warga pun sibuk membagikan daging kurban kepada masyarakat sekitar. Daging kurban yang melimpah ini kemudian diolah menjadi berbagai hidangan lezat. Namun, ada satu tradisi yang selalu menjadi sorotan dan dinantikan banyak orang: membakar sate bersama.

Tradisi membakar sate dari daging kurban telah menjadi kebiasaan turun-temurun yang terus dipertahankan oleh warga Pangandaran, khususnya di wilayah pedesaan seperti Parigi. Kegiatan ini bukan hanya soal menikmati hidangan lezat, tetapi juga menjadi ajang berkumpul bersama keluarga, tetangga, dan teman-teman lama di kampung halaman.

Ahmad (30), warga Kecamatan Parigi, mengaku selalu menantikan momen Idul Adha untuk bisa berkumpul bersama keluarga dan teman-teman sambil membakar sate. Menurutnya, tradisi ini telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat sejak lama.

“Setiap tahun pada hari lebaran kurban, saya dan keluarga selalu kebagian daging kurban. Biasanya kami langsung mengolahnya jadi sate dan membakarnya bersama-sama di halaman rumah,” ujar Ahmad saat ditemui pada Hari Raya Idul Adha, Kamis (6/6).

Bagi Ahmad dan warga lainnya, tradisi ini bukan hanya soal makanan, tetapi juga tentang menjalin kembali kedekatan yang selama ini mungkin renggang karena kesibukan sehari-hari. Momen Idul Adha menjadi saat yang tepat untuk berkumpul, saling berbagi cerita, dan mempererat hubungan kekeluargaan.

“Alhamdulillah, setiap tahun selalu dapat daging. Karena itu, kami manfaatkan untuk kumpul dan silaturahmi. Sambil bakar sate, suasananya jadi lebih hangat dan penuh kebersamaan,” tambahnya.

Di beberapa tempat, warga bahkan membuat acara bakar sate secara bersama-sama di lapangan atau halaman masjid setelah salat Id. Anak-anak hingga orang tua larut dalam suasana kebersamaan yang khas, diiringi aroma harum sate yang menggoda.

Tradisi ini mencerminkan semangat kebersamaan dan gotong royong yang masih kental di tengah masyarakat Pangandaran. Di tengah zaman yang semakin modern dan individualistis, kebiasaan sederhana seperti ini justru menjadi penyejuk dan pengingat akan pentingnya nilai kekeluargaan dan kebersamaan.

Perayaan Idul Adha di Pangandaran bukan hanya menjadi perwujudan ketaatan kepada Allah SWT melalui ibadah kurban, tetapi juga menjadi simbol solidaritas sosial dan rasa syukur atas nikmat yang diberikan. Dan lewat asap sate yang mengepul, warga merayakan bukan hanya dengan perut kenyang, tapi juga hati yang hangat.***