KABAR PANGANDARAN – Banyak masyarakat yang pernah mengalami harus menunggu cukup lama saat berada di Instalasi Gawat Darurat (IGD), meskipun merasa datang lebih dulu dibanding pasien lainnya. Kondisi tersebut kerap menimbulkan pertanyaan, mengapa pasien yang datang belakangan justru lebih dahulu ditangani oleh petugas medis.
Hal tersebut sebenarnya berkaitan dengan sistem triase yang diterapkan di IGD. Dalam pelayanan kegawatdaruratan, penanganan pasien tidak berdasarkan urutan kedatangan, melainkan ditentukan oleh tingkat kegawatan kondisi pasien.
Triase merupakan sistem pemilihan dan pengelompokan pasien berdasarkan tingkat keparahan atau kegawatdaruratannya. Sistem ini digunakan oleh tenaga medis untuk memastikan pasien yang berada dalam kondisi paling kritis mendapatkan pertolongan secepat mungkin.
Dalam praktiknya, triase membantu petugas medis menentukan prioritas penanganan sehingga layanan di IGD dapat berjalan lebih efektif dan menyelamatkan lebih banyak nyawa.
Secara umum, sistem triase membagi kondisi pasien ke dalam beberapa kategori berdasarkan tingkat kegawatannya.
Kategori pertama adalah merah, yaitu kondisi gawat darurat yang mengancam nyawa dan harus segera mendapatkan penanganan medis. Pasien dengan kategori ini menjadi prioritas utama dalam pelayanan IGD. Contoh kasus yang termasuk kategori merah antara lain henti napas atau henti jantung, pendarahan hebat, serangan jantung, kejang yang sedang berlangsung, gangguan sirkulasi atau syok, serta cedera kepala berat.
Kategori kedua adalah kuning, yaitu darurat tetapi tidak gawat. Pada kondisi ini pasien tidak berada dalam ancaman kematian secara langsung, namun tetap membutuhkan penanganan medis karena berpotensi menyebabkan kecacatan atau komplikasi serius. Contoh kasus kategori kuning antara lain patah tulang, demam tinggi di atas 39 derajat Celsius, serangan asma, cedera kepala sedang, diare dengan dehidrasi, hingga luka bakar atau luka robek.
Kategori berikutnya adalah hijau, yaitu kondisi yang tidak mengancam nyawa. Pasien dalam kategori ini biasanya masih dapat menunggu karena kondisinya relatif stabil. Contoh keluhan yang termasuk kategori hijau antara lain mual muntah ringan, diare tanpa dehidrasi, batuk pilek, sakit kepala, luka lecet, serta demam ringan.
Sementara itu, terdapat pula kategori hitam, yang digunakan untuk pasien yang telah meninggal dunia atau berada pada kondisi yang secara medis sudah tidak memiliki harapan untuk diselamatkan.
Dengan adanya sistem triase, tenaga medis di IGD dapat menentukan prioritas penanganan secara cepat dan tepat. Hal ini sangat penting terutama ketika jumlah pasien yang datang cukup banyak dalam waktu bersamaan.
Karena itu, masyarakat diharapkan dapat memahami bahwa pelayanan di IGD tidak didasarkan pada siapa yang datang lebih dulu, melainkan pada siapa yang paling membutuhkan pertolongan segera.
Pemahaman ini diharapkan dapat meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya sistem triase dalam pelayanan kesehatan darurat, sekaligus mendukung tenaga medis agar dapat bekerja secara optimal dalam menyelamatkan pasien yang berada dalam kondisi paling kritis.






