KABAR PANGANDARAN – Di balik riuh ombak pesisir selatan Jawa Barat, sebuah pesan penting menggema dari koridor pelayanan RSUD Pandega Pangandaran. Bertepatan dengan peringatan International Day of the Midwife atau Hari Bidan Internasional 2026, rumah sakit milik Pemerintah Kabupaten Pangandaran itu mengangkat isu global mengenai krisis kekurangan tenaga bidan di dunia.
Melalui unggahan resminya pada awal Mei 2026, RSUD Pandega mengusung tema internasional “The World Needs One Million More Midwives” atau “Dunia Membutuhkan Satu Juta Bidan Lagi”. Tema tersebut menjadi pengingat bahwa keberadaan bidan memiliki peran vital dalam menjaga keselamatan ibu dan bayi, terutama di wilayah dengan akses layanan kesehatan yang masih terbatas.
Pesan yang disampaikan bukan sekadar seremonial tahunan, melainkan bentuk refleksi atas tantangan nyata yang masih dihadapi sistem kesehatan global, termasuk di daerah-daerah pelosok Indonesia.
Bagi masyarakat Pangandaran, sosok bidan memiliki kedekatan emosional tersendiri. Mereka bukan hanya tenaga kesehatan yang membantu proses persalinan, tetapi juga pendamping keluarga sejak masa kehamilan hingga pasca melahirkan.
Dalam narasi yang dibagikan RSUD Pandega, bidan disebut sebagai “penjaga harapan” bagi para ibu dan generasi masa depan. Peran mereka dinilai jauh melampaui tugas medis semata.
“Bidan bukan hanya tenaga kesehatan, tetapi juga penjaga harapan bagi ibu dan generasi masa depan,” tulis manajemen RSUD Pandega dalam unggahannya.
Di wilayah seperti Pangandaran yang memiliki bentang geografis beragam, mulai dari kawasan pesisir hingga daerah pedesaan yang cukup jauh dari pusat layanan kesehatan, keberadaan bidan menjadi sangat penting. Mereka berada di garis terdepan dalam pelayanan kesehatan ibu dan anak, sekaligus menjadi ujung tombak pencegahan angka kematian ibu (AKI) dan angka kematian bayi (AKB).
Tidak sedikit bidan yang harus memberikan pelayanan hingga ke pelosok desa demi memastikan ibu hamil mendapatkan pemeriksaan rutin dan persalinan yang aman. Dalam banyak situasi, bidan juga menjadi sumber edukasi kesehatan bagi masyarakat terkait gizi, imunisasi, hingga kesehatan reproduksi.
Momentum Hari Bidan Internasional 2026 juga dimanfaatkan RSUD Pandega untuk memberikan apresiasi kepada seluruh bidan yang selama ini tetap menjalankan tugas dengan penuh dedikasi di tengah berbagai keterbatasan.
Profesionalisme, ketulusan, dan empati menjadi nilai utama yang terus dijaga para bidan dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat. Hal itu sejalan dengan semangat pelayanan humanis yang diusung RSUD Pandega sebagai “Sahabat Pandega”.
Meski demikian, tantangan yang dihadapi tenaga kebidanan masih cukup besar. Selain kebutuhan jumlah tenaga bidan yang terus meningkat, pemerataan distribusi tenaga kesehatan juga menjadi persoalan penting, terutama di daerah terpencil.
Karena itu, seruan “Satu Juta Bidan Lagi” diharapkan tidak berhenti sebagai slogan kampanye global semata. RSUD Pandega menilai diperlukan langkah nyata melalui kebijakan pemerintah dalam memperkuat kapasitas dan kesejahteraan tenaga kesehatan, khususnya bidan di daerah.
Penguatan pendidikan kebidanan, peningkatan fasilitas pelayanan kesehatan, hingga dukungan terhadap pengembangan kompetensi menjadi faktor penting dalam menciptakan pelayanan maternal yang berkualitas.
Tanpa kehadiran bidan yang profesional dan memadai, upaya menciptakan generasi sehat dan berkualitas akan menghadapi tantangan besar. Sebab di tangan para bidan lah, awal kehidupan generasi masa depan dimulai.
Melalui momentum Hari Bidan Internasional 2026, RSUD Pandega Pangandaran berharap masyarakat semakin menghargai peran bidan sebagai garda terdepan kesehatan ibu dan anak. Di tengah keterbatasan yang ada, para bidan tetap menjadi cahaya harapan bagi lahirnya generasi yang sehat, kuat, dan berkualitas di masa mendatang.






