Berita  

Petani Pangandaran Sulap Pesisir Pantai Jadi Kebun Semangka Tanpa Biji

Warga Dusun Pondok Lombok Desa Sidomulyo Pangandaran Agus Muhyanto Sukses Menjadi Petani Buah Semangka Tanpa Biji Khas Pangandaran, Senin, 11 Mei 2026,(M Jerry/KP).

KABAR PANGANDARAN – Hamparan hijau tanaman semangka membentang di kawasan pesisir pantai selatan Pangandaran. Di tengah terpaan angin laut dan panasnya matahari pantai, lahan yang dulunya dianggap tandus kini berubah menjadi kebun produktif yang menghasilkan puluhan ton semangka tanpa biji berkualitas unggul. Dari tangan para petani lokal, semangka khas Pangandaran kini menjadi salah satu potensi pertanian yang menjanjikan sekaligus membuka peluang ekonomi bagi masyarakat sekitar.

Petani semangka Pangandaran, Agus Muhyanto, mengatakan bahwa pengembangan sektor pertanian tidak hanya soal memanfaatkan sumber daya alam, tetapi juga meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Menurutnya, masyarakat harus ikut berkontribusi dalam mendukung ketahanan pangan dan berbagai program pemerintah, termasuk Program Makan Bergizi Gratis (MBG).

“Mengembangkan SDM dan SDA untuk pertanian sangat penting. Dengan adanya program MBG, masyarakat juga harus ikut berkontribusi melalui sektor pertanian,” ujarnya saat ditemui di kebun semangka miliknya di kawasan pesisir Pangandaran, Senin, 11 Mei 2026.

Proses Memanen Buah Semangka Tanpa Biji Khas Pangandaran.

Kebun semangka tanpa biji yang dikelolanya berada di wilayah pesisir pantai selatan Pangandaran dengan luas lahan mencapai tiga hektare. Meski berada di area yang identik dengan tanah berpasir dan cuaca ekstrem, lahan tersebut justru mampu menghasilkan buah semangka berkualitas tinggi.

Dalam satu kali masa tanam, proses budidaya semangka membutuhkan waktu sekitar 60 hari hingga panen. Namun, kondisi cuaca menjadi salah satu faktor utama yang harus diperhitungkan para petani, terutama karena lokasi kebun berada di kawasan pesisir pantai yang rentan terhadap perubahan cuaca dan terpaan angin kencang.

“Kalau cuaca bagus hasilnya maksimal, tetapi kalau cuaca kurang mendukung tentu akan berpengaruh terhadap pertumbuhan buah. Karena lokasinya di pesisir pantai, faktor cuaca memang harus benar-benar diperhatikan,” kata Agus.

Di atas lahan seluas tiga hektare tersebut, seluruh area ditanami semangka tanpa biji, dalam satu tahun, petani dapat melakukan tiga kali masa tanam dengan sistem satu kali tanam untuk satu kali panen. Hasil panennya pun cukup menjanjikan. Dalam sekali panen, total produksi semangka bisa mencapai sekitar 40 ton.

Semangka yang dihasilkan memiliki kualitas unggul dengan berat rata-rata di atas empat kilogram per buah. Selain memiliki rasa yang manis dan segar, semangka khas Pangandaran ini juga dikenal memiliki daya simpan yang cukup baik sehingga mampu bertahan lebih lama saat dipasarkan.

Keberhasilan budidaya semangka di lahan pesisir tersebut menjadi bukti bahwa lahan tandus sekalipun dapat diubah menjadi kawasan produktif apabila dikelola dengan baik. Selain memberikan manfaat ekonomi bagi petani, usaha pertanian ini juga mampu membuka lapangan pekerjaan bagi masyarakat sekitar.

Agus menjelaskan, setiap satu hektare lahan setidaknya membutuhkan satu karyawan tetap dan satu asisten untuk membantu proses perawatan hingga panen. Dengan demikian, sektor pertanian semangka turut membantu menyerap tenaga kerja lokal.

Ia pun mengajak generasi muda agar tidak malu terjun ke dunia pertanian. Menurutnya, bertani bukan hanya menghasilkan keuntungan ekonomi, tetapi juga memberikan pengalaman dan ilmu yang bermanfaat.

“Untuk generasi muda jangan malu menanam. Ayo menanam buah semangka, karena dari sana kita bisa mendapatkan ilmu dan pengalaman. Pertanian punya masa depan yang bagus kalau ditekuni dengan serius,” pungkasnya.