KABAR PANGANDARAN – Memperingati Hari Penglihatan Sedunia (World Sight Day), Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Pandega Pangandaran menggelar penyuluhan kesehatan bertajuk NGOBATAN (Ngobrol Bareng Seputar Kesehatan).
Mengusung tema “Sayangi dan Jaga Penglihatanmu”, kegiatan yang berlangsung di ruang tunggu poliklinik ini menghadirkan dokter spesialis mata RSUD Pandega Pangandaran, dr. Mia Rachmawati Novitasari, Sp.M, sebagai narasumber utama.
Dalam paparannya, dr. Mia menegaskan pentingnya deteksi dini serta kewaspadaan masyarakat terhadap risiko gangguan penglihatan yang kerap diabaikan.
Pentingnya Deteksi Dini Gangguan Penglihatan
Menurut dr. Mia, sebagian besar kasus kebutaan atau penurunan fungsi penglihatan di dunia sebenarnya dapat dicegah maupun ditangani apabila terdeteksi sejak awal.
Gangguan penglihatan yang paling umum ditemui antara lain kelainan refraksi (mata minus, plus, atau silinder), katarak, glaukoma, hingga retinopati diabetik akibat komplikasi penyakit gula (diabetes).
”Banyak kasus gangguan mata yang datang berobat saat kondisinya sudah lanjut. Padahal, penanganan sejak dini sangat menentukan kualitas penglihatan pasien ke depannya,” jelas dr. Mia.
Waspadai Bahaya Trauma dan Benda Asing pada Mata
Selain faktor degeneratif dan penyakit kronis, dr. Mia menyoroti tingginya angka kunjungan pasien akibat cedera mata di tempat kerja maupun aktivitas sehari-hari.
Ia mencontohkan kasus gram besi akibat aktivitas memotong besi atau mengelas tanpa pelindung, serta kelilipan debu gabah atau tanaman padi pada petani. Kondisi kelilipan yang tidak segera ditangani secara medis berisiko memicu infeksi kornea (ulkus) yang dapat menyebabkan terbentuknya jaringan parut (bercak putih) permanen, bahkan kebocoran bola mata.
”Bagi pekerja bengkel las, konstruksi, atau petani, wajib menggunakan kacamata pelindung kerja yang rapat. Jika terkena serpihan atau tanaman, segera periksakan ke dokter mata dan jangan gunakan ramuan herbal yang belum tentu steril karena bisa memperparah infeksi,” tegasnya.
Batasi Gadget dan Terapkan Aturan 20-20-20
dr. Mia juga mengimbau para orang tua untuk lebih peka terhadap kebiasaan anak, menyusul meningkatnya kasus rabun jauh sejak maraknya penggunaan gawai. Tanda-tanda seperti menonton TV terlalu dekat, membaca dengan jarak sangat dekat, atau sering menyipitkan mata perlu segera diperiksakan.
Untuk mencegah kelelahan mata digital (digital eye strain), baik pada anak-anak maupun pekerja kantoran, dr. Mia menyarankan penerapan aturan 20-20-20:
Setiap 20 menit menatap layar,
Alihkan pandangan sejauh minimal 20 kaki (sekitar 6 meter),
Istirahatkan mata selama 20 detik dan jangan lupa berkedip.












