KABAR PANGANDARAN — Kanker payudara masih menjadi momok menakutkan dan menduduki peringkat pertama sebagai penyakit kanker yang paling banyak diderita oleh wanita di Indonesia. Ironisnya, minimnya literasi kesehatan membuat sebagian besar pasien baru mendatangi fasilitas medis setelah memasuki stadium lanjut.
Merespons kondisi darurat tersebut, RSUD Pandega Pangandaran menggelar program edukasi publik bertajuk NGOBATAN (Ngobrol Bareng Seputar Kesehatan). Mengusung tema “Kanker Payudara: Kenali Risiko dan Gejalanya”, kegiatan yang dihelat di ruang tunggu Poli Dalam ini menghadirkan Dokter Spesialis Bedah RSUD Pandega Pangandaran, dr. Juliawan Perminanto, Sp.B, sebagai narasumber utama.
Jangan Tunggu Stadium Lanjut: 25.000 Kasus Per Tahun di Indonesia
Dalam pemaparannya, dr. Juliawan membeberkan fakta yang mengkhawatirkan. Angka kasus baru kanker payudara di Indonesia menyentuh angka 25.000 kasus setiap tahunnya.
”Banyak ibu-ibu datang berobat ke rumah sakit sering kali dalam keadaan stadiumnya sudah cukup tinggi, bukan stadium awal,” ungkap dr. Juliawan.
Keterlambatan penanganan ini kerap memicu komplikasi parah, kecacatan permanen, hingga pembengkakan biaya pengobatan. Menurutnya, tidak sedikit pasien yang sempat lari ke pengobatan non-medis karena diliputi rasa takut, dan baru kembali ke rumah sakit ketika kondisi fisik sudah telanjur memburuk. Padahal, jika dideteksi sejak dini, peluang kesembuhan jauh lebih tinggi dan biaya penanganan jauh lebih efisien.
Kenali Ciri Benjolan Ganas yang Perlu Diwaspadai
Masyarakat diimbau untuk tidak panik karena tidak semua benjolan pada payudara berstatus kanker. Kendati demikian, dr. Juliawan mengingatkan agar masyarakat waspada terhadap karakteristik benjolan yang mengarah pada keganasan, meliputi:
• Struktur Benjolan: Terasa keras saat diraba dan umumnya tidak bergeser atau sulit digerakkan.
• Perubahan Kulit: Tekstur kulit payudara berubah menjadi kasar, menebal, atau tampak berpori besar menyerupai kulit jeruk (peau d’orange).
• Kelainan Puting: Puting mengalami perubahan bentuk seperti tertarik/masuk ke dalam (retraksi), lecet, atau secara spontan mengeluarkan cairan/darah.
Faktor Risiko yang Sempurna Picu Kanker Payudara
Kanker payudara dipicu oleh kombinasi faktor gaya hidup modern dan hormonal. Beberapa pemicu utama yang perlu diwaspadai meliputi:
1. Gaya Hidup & Genetik: Kebiasaan mengonsumsi makanan cepat saji (fast food) serta memiliki riwayat genetik atau keluarga dengan riwayat kanker payudara.
2. Paparan Hormonal Jangka Panjang: Wanita yang mengalami menstruasi pertama (menarke) di bawah usia 12 tahun atau mengalami menopause terlambat di atas usia 52 tahun memiliki durasi paparan hormon estrogen yang lebih panjang.
3. Faktor Reproduksi & Kontrasepsi: Penggunaan kontrasepsi hormonal (pil atau suntik KB) dalam jangka panjang, serta kondisi wanita yang tidak pernah hamil atau melahirkan.
Komitmen RSUD Pandega: Perkuat Layanan Deteksi Dini
Guna menekan angka keparahan, RSUD Pandega Pangandaran mengajak masyarakat untuk rutin melakukan SADANIS (Periksa Payudara Klinis) yang dilakukan oleh tenaga medis terlatih, di mana metode ini memiliki tingkat akurasi deteksi hingga 85 persen.
Sebagai wujud peningkatan mutu pelayanan kesehatan, RSUD Pandega saat ini tengah mempersiapkan Laboratorium Patologi Anatomi lengkap dengan Dokter Spesialis Patologi Anatomi agar proses pemeriksaan biopsi dapat berjalan lebih cepat. Selain itu, rumah sakit ini juga menargetkan kehadiran Dokter Spesialis Onkologi (khusus tumor) pada tahun 2026 ini untuk memperkuat lini penanganan kanker di Kabupaten Pangandaran.
Bagi masyarakat yang merasakan adanya benjolan atau kelainan janggal pada area payudara, diimbau untuk segera berkonsultasi ke fasilitas kesehatan terdekat agar mendapatkan diagnosis dan penanganan yang tepat waktu.***












