Berita

Gebyar Pentas Kompetensi PAI Pangandaran: Strategi Baru Bangun Karakter Siswa

×

Gebyar Pentas Kompetensi PAI Pangandaran: Strategi Baru Bangun Karakter Siswa

Sebarkan artikel ini
Gebyar Pentas Kompetensi PAI Pangandaran. Gagasan tersebut mengemuka dalam Seminar Peningkatan Kompetensi Guru PAI SMP Kabupaten Pangandaran yang diselenggarakan Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) PAI SMP Kabupaten Pangandaran di SMP Negeri 1 Pangandaran, Senin (24/8/2026).(M Jerry/KP).

KABAR PANGANDARAN — Penguatan Pendidikan Agama Islam (PAI) di Kabupaten Pangandaran dinilai perlu ditransformasi agar tidak sekadar berorientasi pada kompetisi piala. Guru PAI didorong untuk membangun ruang kolaborasi bersama guna menampilkan kompetensi, kreativitas, dan praktik baik peserta didik melalui ajang Gebyar Pentas Kompetensi PAI Pangandaran.

Gagasan tersebut mengemuka dalam Seminar Peningkatan Kompetensi Guru PAI SMP Kabupaten Pangandaran yang diselenggarakan oleh Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) PAI SMP di SMP Negeri 1 Pangandaran, Senin (24/8/2026).

Seminar ini mengusung tema “Penguatan Kompetensi GPAI dalam Mewujudkan Pembelajaran PAI yang Berkesadaran, Bermakna, dan Menggembirakan untuk Mendukung Pendidikan Karakter Melesat di Pangandaran.”

Hadir sebagai narasumber utama, Dr. Irpan Ilmi, S.Hum., M.M. (Dosen Institut Nasional Nusantara Al Farabi), menyampaikan materi bertajuk “Formulasi Solusi Kreatif atas Tantangan Moralitas, Karakter, dan Literasi Agama Murid di Pangandaran.”

Poin Kunci dan Restrukturisasi Gagasan

1. Transformasi: Dari Perlombaan Menjadi Ruang Kolaborasi

Konsep Baru: Mengubah orientasi dari perlombaan yang kaku menjadi event-based education.

Fokus Utama: Menempatkan siswa sebagai talenta yang diberi ruang mengekspresikan kemampuan, bukan sekadar mengejar status juara.

Elemen Pembelajaran: Kegiatan mencakup eksplorasi ide, identifikasi masalah, inovasi, perumusan konsep, hingga penetapan tujuan.

2. Peluang Menjadi Macro Event Pemerintah Daerah

Skala Kegiatan: Diusulkan tidak hanya menjadi agenda internal MGMP, melainkan bagian dari macro event Pemerintah Kabupaten Pangandaran.

Ekosistem Kolaboratif: Pemkab Pangandaran berperan sebagai pengarah ekosistem, sementara sekolah, akademisi, komunitas, dan dunia usaha bertindak sebagai mitra strategis.

Dampak Sosial: Membuktikan bahwa pendidikan agama tidak hanya hidup di dalam ruang kelas, tetapi juga hadir nyata dalam kehidupan masyarakat.

3. Unjuk Kemampuan, Bukan Berebut Juara

Variasi Ragam Unjuk Diri: Peserta dapat menampilkan praktik ibadah, seni budaya Islam, literasi Al-Qur’an, dakwah kreatif, proyek sosial keagamaan, hingga teknologi pendidikan Islam.

Inklusivitas: Memberi panggung bagi sekolah dengan keunikannya masing-masing tanpa harus saling mematikan potensi lewat arena kompetisi yang seragam.

4. PAI sebagai Pilar Pendidikan Karakter Daerah

Tahapan Evaluasi Berkelanjutan: Rangkaian kegiatan dibagi menjadi tiga fase: pra-acara (proses pembelajaran), saat acara (aktualisasi diri), dan pasca-acara (refleksi & pengembangan).

Indikator Keberhasilan: Diukur dari sejauh mana perubahan sikap, peningkatan keterampilan, serta seberapa luas jejaring kolaborasi yang terbentuk.

Visi Efek Jangka Panjang

Jika dikembangkan secara konsisten, Gebyar Pentas Kompetensi PAI dapat bertransformasi menjadi agenda tahunan pendidikan dan kebudayaan daerah.

Sinergi yang terbangun memberi ruang bagi setiap pihak:

Pemerintah Daerah: Memperkuat agenda pembangunan karakter masyarakat.

Sekolah & Guru: Wadah berbagi praktik baik dan inovasi pembelajaran.

Perguruan Tinggi & Komunitas: Ruang pendampingan akademik serta penguatan kreativitas.

Peserta Didik: Panggung aktualisasi diri tanpa tekanan kompetisi murni.

Pada akhirnya, ukuran keberhasilan ajang ini berpatokan pada semangat dasar: bukan tentang siapa yang menang, melainkan apa yang dapat ditampilkan, dibagikan, dan diwariskan bersama.