KABAR PANGANDARAN – Di balik manisnya gula kelapa yang kerap tersaji di dapur masyarakat, tersimpan perjuangan panjang para penderes. Salah satunya Kuswandi, warga Karangtirta, Desa Sukaresik, Kecamatan Sidamulih, Kabupaten Pangandaran, yang akrab disapa Unyil Kacar Kicir.Rabu,4 Maret 2026.
Sejak usia muda, Kuswandi menekuni pekerjaan sebagai penderes atau penyadap pohon kelapa. Setiap pagi dan sore, ia harus memanjat sekitar 80 pohon kelapa untuk mengambil air nira. Dari puluhan pohon tersebut, ia mampu mengumpulkan sekitar 120 liter nira dalam sehari.
Air nira itu kemudian dimasak secara tradisional hingga mengental dan berubah menjadi gula kelapa. Dalam dua hari sekali produksi, Kuswandi dapat menghasilkan sekitar 70 kilogram gula kelapa. Gula tersebut dijual dengan harga Rp13 ribu per kilogram kepada pengepul.
Setelah proses pemasakan selesai, gula cair kental itu dituangkan ke dalam wadah berbentuk mangkuk dengan berat sekitar 7 ons per cetakan. Proses ini dilakukan secara teliti agar kualitas dan bentuk gula tetap terjaga.
Tak hanya bergantung pada kelapa, Kuswandi juga memanfaatkan pohon nipah yang tumbuh subur di sepanjang jalur pesisir selatan Pangandaran, tepatnya di blok Jembatan Aston atau Cikembulan–Karangtirta. Dari sekitar 40 batang nipah yang masing-masing memiliki lebih dari satu tangkai ia dapat menghasilkan sekitar 18 kilogram air nira per hari.
Meski sama-sama menghasilkan gula, Kuswandi mengakui kualitas gula kelapa masih lebih unggul dibandingkan gula nipah, baik dari segi rasa maupun daya tahan.
Pekerjaan menderes bukan tanpa risiko. Setiap hari ia harus memanjat pohon tinggi dengan peralatan sederhana. Namun, semangatnya tak pernah surut. Baginya, kerja keras dan ikhtiar adalah kunci untuk memenuhi kebutuhan keluarga.
Di sela aktivitasnya, Kuswandi juga menyampaikan harapan kepada masyarakat maupun pengguna jalan yang melintasi kawasan pesisir tersebut agar tidak membuang sampah sembarangan. Menurutnya, sampah yang berserakan tidak hanya merusak keindahan alam, tetapi juga dapat mengganggu lingkungan tempat ia dan warga lainnya mencari nafkah.
Tanpa mengenal lelah dan menyerah, Kuswandi terus bertahan menjaga tradisi menderes yang telah ia jalani sejak muda. Dari tangan dan ketekunannya, manisnya gula kelapa Pangandaran terus mengalir ke berbagai penjuru.






