KABAR PANGANDARAN – Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Batu Hiu menggelar doa bersama untuk mengenang 20 tahun tragedi tsunami Pangandaran yang terjadi pada 17 Juli 2006. Kegiatan yang berlangsung pada Jumat (17/7/2026) ini dipusatkan di kawasan Parkir Timur Pantai Batu Hiu, Desa Ciliang, Kecamatan Parigi, Kabupaten Pangandaran.
Acara tersebut diikuti oleh anggota Pokdarwis, tokoh masyarakat, pelaku usaha wisata, serta warga sekitar dan Mahasiswa KKN dari 3 Universitas (IPB,UIN dan Uninus). Selain menjadi momentum mengenang para korban, kegiatan ini juga menjadi pengingat pentingnya meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi bencana di kawasan pesisir.
Ketua Pokdarwis Batu Hiu, Jajat Sudrajat, mengatakan doa bersama ini merupakan agenda rutin yang dilaksanakan setiap tahun sebagai bentuk penghormatan kepada para korban tsunami sekaligus memperkuat kesadaran masyarakat akan pentingnya kesiapsiagaan menghadapi bencana.
“Setiap tanggal 17 Juli kami selalu menggelar doa bersama. Ini bukan hanya untuk mengenang para korban, tetapi juga sebagai pengingat agar masyarakat tidak melupakan sejarah dan selalu siap menghadapi kemungkinan terjadinya bencana,” ujar Jajat.
Ia mengenang detik-detik saat tsunami melanda kawasan pesisir Pangandaran pada 17 Juli 2006. Menurutnya, kepanikan melanda seluruh warga ketika gelombang besar datang menghantam pantai tanpa diduga.
Saat itu, kata Jajat, banyak warga berupaya menyelamatkan diri dengan cara memanjat pepohonan yang berada di sekitar kawasan Batu Hiu. Sebagian lainnya berlari menuju tempat yang lebih tinggi, termasuk ke kawasan perbukitan yang menjadi lokasi evakuasi alami bagi masyarakat.
“Banyak warga yang naik ke atas pepohonan untuk menyelamatkan diri. Selain itu, bukit di kawasan Batu Hiu menjadi tempat berlindung yang sangat membantu menyelamatkan warga dari terjangan gelombang tsunami,” kenangnya.
Menurutnya, pengalaman pahit tersebut menjadi pelajaran berharga bagi masyarakat pesisir. Kesadaran terhadap jalur evakuasi, lokasi titik kumpul, hingga pentingnya memahami tanda-tanda alam kini semakin ditingkatkan agar masyarakat lebih siap jika sewaktu-waktu terjadi bencana serupa.
Jajat berharap generasi muda tetap mengingat sejarah kelam tsunami Pangandaran sebagai bagian dari edukasi kebencanaan. Ia menilai, peringatan tahunan seperti ini penting agar semangat gotong royong, kepedulian, dan kesiapsiagaan terus terjaga di tengah masyarakat.
Doa bersama berlangsung khidmat dengan harapan seluruh korban yang telah meninggal dunia mendapat tempat terbaik di sisi Tuhan Yang Maha Esa. Sementara bagi masyarakat yang selamat, peringatan ini menjadi momentum untuk memperkuat solidaritas serta membangun budaya sadar bencana.
Dua dekade setelah tragedi tsunami Pangandaran, masyarakat Batu Hiu berkomitmen menjaga ingatan kolektif atas peristiwa tersebut. Melalui doa bersama dan refleksi tahunan, mereka berharap kawasan wisata Batu Hiu tidak hanya dikenal karena keindahan alamnya, tetapi juga menjadi contoh kawasan wisata yang tangguh, aman, dan siap menghadapi potensi bencana di masa mendatang.***












