Berita

Mitos Ditusuk Jarum Justru Berbahaya: RSUD Pandega Pangandaran Ingatkan Penanganan Tepat Serangan Stroke

×

Mitos Ditusuk Jarum Justru Berbahaya: RSUD Pandega Pangandaran Ingatkan Penanganan Tepat Serangan Stroke

Sebarkan artikel ini
Foto Tangkapan Layar Instagram RSUD Pandega.

KABAR PANGANDARAN — Stroke masih menjadi salah satu penyebab utama kecacatan tertinggi di Indonesia. Kurangnya pemahaman masyarakat terkait tindakan darurat awal sering kali memperburuk kondisi pasien. Menanggapi isu tersebut, RSUD Pandega Pangandaran menggelar edukasi kesehatan secara daring melalui program rutin NGOBATAN (Ngobrol Bareng Seputar Kesehatan).

​Mengangkat tema “Bicara Mendadak Pelo? Waspada Stroke!”, acara yang disiarkan melalui akun Instagram resmi @rsud_pangandaran ini menghadirkan Dokter Spesialis Saraf RSUD Pandega Pangandaran, dr. Nata Sanjaya, S.H., Sp.N. Dalam sesi tersebut, dr. Nata membeberkan sejumlah fakta krusial sekaligus meluruskan berbagai mitos penanganan stroke yang salah kaprah di tengah masyarakat.

​Mitos Menyesatkan: Jangan Ditusuk Jarum, Dipijat, atau Dikerok!

​Di tengah masyarakat, masih marak anggapan bahwa menusuk ujung jari atau daun telinga pasien stroke menggunakan jarum dapat menyembuhkan serangan. Dokter Nata menegaskan bahwa praktik tersebut sangat keliru dan berbahaya.

​”Masalah utama stroke terletak pada sumbatan atau pecahnya pembuluh darah di otak, bukan pada ujung jari atau telinga,” jelas dr. Nata.

​Selain itu, ia mengimbau agar keluarga tidak melakukan tindakan berikut saat menghadapi gejala stroke pada pasien:

• ​Memijat area kepala: Otak dilindungi oleh tulang tengkorak yang keras, sehingga pijatan dari luar tidak akan memberikan efek penyembuhan.

• ​Melakukan pengerokan.

• ​Memberikan makanan atau minuman secara sembarangan: Hal ini berisiko tinggi menyebabkan pasien tersedak dan memicu komplikasi saluran pernapasan.

• ​Menunggu di rumah: Berharap kondisi pasien membaik dengan sendirinya tanpa penanganan medis adalah kekeliruan besar.

​Kenali Gejala Awal Lewat Singkatan “SeGeRa Ke RS”

​Stroke merupakan serangan mendadak yang terjadi akibat sel-sel otak kekurangan pasokan darah dan oksigen. Untuk mempermudah masyarakat mengenali gejalanya secara cepat, dr. Nata membagikan panduan singkatan “SeGeRa Ke RS”:

• ​Se (Senyum): Senyum tampak tidak simetris atau mulut mencong secara tiba-tiba.

• ​Ge (Gerak): Gerak separuh anggota tubuh melemah atau lumpuh seketika.

• ​Ra (BicaRa): Bicara menjadi pelo, tidak nyambung, atau tiba-tiba sulit mengeluarkan kata-kata.

• ​Ke (Kebas): Kebas atau kesemutan pada separuh bagian tubuh.

• ​R (Rabun): Pandangan kabur atau rabun secara mendadak.

• ​S (Sakit Kepala): Sakit kepala hebat yang tidak pernah dirasakan sebelumnya, sering kali disertai gangguan keseimbangan.

​Golden Period Penanganan: Maksimal 4 Jam!

​Penanganan serangan stroke sangat berpacu dengan waktu. Jaringan otak dapat mengalami kerusakan permanen atau mati jika tidak mendapatkan aliran darah lebih dari empat jam.

​”Maksimal empat jam sejak kejadian pertama, pasien harus sudah sampai di rumah sakit,” tegas dr. Nata.

​Keterlambatan penanganan dapat menyebabkan sumbatan pembuluh darah semakin meluas, sehingga meningkatkan tingkat kecacatan fisik hingga risiko kematian. Oleh karena itu, masyarakat diminta langsung membawa pasien ke Instalasi Gawat Darurat (IGD) rumah sakit yang memiliki fasilitas penanganan stroke terpadu.

​Pencegahan: Wajib Stop Merokok Total

​Sebagai langkah pencegahan jangka panjang, pengelolaan faktor risiko menjadi kunci utama. Hal ini meliputi pengawasan tekanan darah tinggi (hipertensi), kadar gula darah, dan kolesterol, yang didukung oleh pola hidup sehat, aktivitas fisik teratur, serta pemeriksaan kesehatan (medical check-up) berkala.

​Khusus bagi para perokok, dr. Nata memberikan peringatan keras. Kebiasaan merokok harus dihentikan secara total, bukan sekadar dikurangi intensitas atau jumlah batangnya.***