KABAR PANGANDARAN – Keindahan alam pesisir Pangandaran kembali dipadukan dengan kekayaan budaya lokal dalam kegiatan kreatif bertajuk Hunting Foto Budaya Pesisir Pangandaran yang menjadi bagian dari rangkaian acara SIDAK#3 (Silaturahmi dengan Kamera), Sabtu (16/05/2026), di kawasan wisata Pantai Batu Hiu, Kabupaten Pangandaran.
Kegiatan ini menghadirkan kolaborasi antara komunitas fotografer, komunitas make up artis, pelaku seni budaya, hingga pegiat pariwisata dalam upaya bersama mengangkat budaya pesisir Pangandaran sebagai kekuatan utama destinasi wisata daerah yang mampu bersaing di tingkat nasional maupun internasional.
Dengan latar panorama Pantai Batu Hiu dan cahaya senja khas Pangandaran, para fotografer mengabadikan berbagai pertunjukan budaya tradisional seperti kuda lumping dan tarian khas daerah yang dikemas secara artistik, emosional, dan estetik. Momen tersebut tidak hanya menjadi ruang berkarya bagi para fotografer, tetapi juga menjadi media promosi budaya yang dikemas melalui karya visual modern.
Kegiatan hunting budaya ini diharapkan mampu menghasilkan foto-foto berkualitas tinggi yang dapat dimanfaatkan sebagai materi promosi wisata Pangandaran di berbagai platform digital, pameran fotografi, hingga media promosi pariwisata lainnya.
Konsep wisata berbasis pengalaman budaya atau cultural experience tourism dinilai memiliki potensi besar dalam menarik wisatawan modern yang kini tidak hanya mencari keindahan alam, tetapi juga pengalaman autentik dan berkesan dari sebuah daerah yang dikunjungi.
Melalui karya fotografi yang dihasilkan, budaya pesisir Pangandaran diharapkan tampil sebagai identitas kuat yang mampu menjadi pembeda di tengah persaingan destinasi wisata modern. Foto-foto budaya tersebut juga diproyeksikan menjadi bagian dari bank visual strategis untuk mendukung branding Pangandaran sebagai destinasi wisata budaya pesisir berkelas dunia.
Pembina kegiatan, Ida Nurlaela Wiradinata, menyampaikan apresiasi terhadap semangat para fotografer muda dan komunitas kreatif yang terus berupaya mengangkat budaya daerah melalui karya visual.
Menurutnya, budaya merupakan identitas dan kebanggaan daerah yang harus terus dijaga sekaligus diperkenalkan kepada generasi masa depan dan dunia luar.
“Saya sangat mengapresiasi kegiatan ini karena para fotografer tidak hanya menghasilkan karya seni, tetapi juga menjadi bagian dari gerakan promosi budaya dan pariwisata daerah. Ketika budaya diangkat dengan cinta dan kreativitas, maka Pangandaran akan memiliki daya tarik yang tidak hanya indah dilihat, tetapi juga meninggalkan kesan mendalam bagi siapa pun yang datang,” ujarnya.
Ia berharap karya-karya fotografi budaya Pangandaran tidak berhenti hanya menjadi dokumentasi atau unggahan media sosial semata, melainkan benar-benar hadir sebagai wajah promosi pariwisata daerah.
Menurutnya, foto-foto budaya sangat layak dipasang di hotel, ruang publik, pusat informasi wisata, hingga berbagai media promosi lainnya agar wisatawan yang datang dapat langsung merasakan identitas budaya Pangandaran.
Selain itu, Ida juga menyoroti pentingnya pelestarian kesenian tradisional seperti Ronggeng Gunung yang dinilai memiliki musik khas dan nilai budaya yang kuat.
Ia membayangkan kesenian tersebut dapat ditampilkan melalui layar LCD maupun monitor di hotel dan tempat wisata, sehingga wisatawan dapat merasakan nuansa budaya Pangandaran sejak pertama kali datang.
“Destinasi wisata yang kuat bukan hanya yang memiliki panorama indah, tetapi juga yang mampu menghadirkan pengalaman budaya yang membekas di hati para pengunjung,” katanya.
Sementara itu, Ketua Fotografer Pangandaran, Yan Yan Yuliana, S.IP, menegaskan bahwa fotografi memiliki peran penting dalam membangun citra dan promosi daerah di era digital saat ini.
“Bagi kami, fotografi bukan hanya tentang mengambil gambar, tetapi tentang menangkap rasa dan menceritakan jiwa sebuah tempat kepada dunia. Lewat kegiatan ini, kami ingin menunjukkan bahwa Pangandaran tidak hanya kaya akan panorama alam, tetapi juga memiliki budaya pesisir yang kuat, hidup, dan sangat layak menjadi daya tarik wisata berkelas dunia,” ungkapnya.
Ia menambahkan, setiap foto yang dihasilkan merupakan bentuk kecintaan terhadap daerah sendiri dan diharapkan mampu menjadi jendela yang mengundang wisatawan datang, mengenal budaya Pangandaran, hingga akhirnya jatuh cinta dan ingin kembali berkunjung.
Ketua Panitia SIDAK#3, Roni Cahyadi, turut menyampaikan bahwa kegiatan ini bukan sekadar ruang berkumpulnya para fotografer, melainkan menjadi wadah kolaborasi antara budaya, kreativitas, dan pariwisata.
Menurutnya, SIDAK#3 ingin menghadirkan karya visual yang tidak hanya indah secara estetika, tetapi juga memiliki nilai promosi dan identitas daerah yang kuat.
“Pangandaran memiliki kekayaan alam dan budaya yang luar biasa. Melalui kegiatan ini, kami ingin menunjukkan bahwa budaya pesisir dapat dikemas secara modern, menarik, dan memiliki daya saing sebagai destinasi wisata kelas dunia,” katanya.
Kegiatan ini juga menjadi langkah awal dalam membangun ekosistem kreatif lintas daerah dengan melibatkan komunitas fotografer dari Pangandaran, Tasikmalaya, Ciamis, Banjar, Kuningan, hingga Cilacap.
Ke depan, kegiatan serupa diharapkan dapat berkembang menjadi festival budaya dan fotografi tahunan yang mampu memperkuat branding Pangandaran sebagai destinasi wisata budaya pesisir berkelas dunia sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi kreatif masyarakat lokal.***






