bjb
Berita  

Menganyam Daun Nipah Untuk Atap Tradisional Di Batu Karas Sudah Sejak Dahulu

CIJULANG-Daun nipah atau daun dahon sejak jaman dulu selalu digunakan untuk bahan membuat atap tradisional, banyak pengrajin anyaman daun nipah ini salah satunya di jalan menuju obyek wisata pantai Batu Karas.

Dibeberapa Kecamatan yang dekat dengan pesisir jalur pantai selatan atau muara sungai tumbuh subur pohon nipah yang ada di wilayah Kabupaten Pangandaran diantaranya Kecamatan Kalipucang,Pangandaran, Parigi, Cijulang juga Cimerak.

Pohon yang daunnya sepintas mirip daun kelapa ini berfungsi sebagai penyeimbang lingkungan untuk menjaga stabilitas tanah dan pencegah erosi di tepi sungai, bengawan dan rawa.

Ternyata pohon dahon ini juga bisa berfungsi sebagai pengganti atap bangunan atau genting, Rabu, 14 Juli 2021.

Pengrajin anyaman daun nipah asal Desa Batu Karas Kecamatan Cijulang Yayah (59) mengatakan berkat keterampilannya ini membuat hateup atau anyaman daun pohon dahon yang bisa berfungsi sebagai pengganti atap bangunan atau genting.

“Iya kebetulan ini lagi menganyam untuk atap kandang ayam pesanan dari Ciamis,” katanya.

Menurutnya setiap hari mendapatkan hasil menganyam daun nipah untuk atap tidak tentu dan harganya per lembar dengan ukuran panjangnya 130 centimeter dijual Rp 1500,-.

“Kalau satu iket isinya 25 lembar harganya Rp37.500,- ,” tuturnya.

Sementara itu Somali (42), manfaat dari pohon dahon selain daunnya dibuat hateup atau atap ternyata buahnya juga bisa dijadikan minuman pelepas dahaga dan bisa menjadi obat beberapa penyakit.

“Sejak dulu daun ini digunakan untuk kebutuhan atap rumah sebagai pengganti genting oleh masyarakat di perkampungan,”katanya.

Selanjutnya selain menjual langsung kepada pemesan para pengrajin juga ada yang menjual kepada pengepul untuk disalurkan ke beberapa daerah dan hasil karya warga ini dikirim ke beberapa daerah untuk bahan baku dasar rumah makan yang dikonsep secara tradisional.

“Kadang banyak juga pemilik hotel yang memesan untuk atap villa,” tambahnya.