KABAR PANGANDARAN – Perubahan cuaca yang tidak menentu dalam beberapa waktu terakhir berdampak pada hasil produksi air nira para penderes gula kelapa. Kondisi tersebut dirasakan oleh para penyadap kelapa yang menggantungkan penghasilan dari hasil nira yang diolah menjadi gula kelapa murni.
Salah seorang penderes di wilayah Pangandaran mengaku, dalam sehari dirinya menyadap sekitar 30 pohon kelapa. Namun akibat cuaca yang tidak normal, hasil air nira yang diperoleh mengalami penurunan dan tidak menentu.
“Kalau cuaca sedang bagus dan normal, hasil air nira bisa lebih banyak. Tapi sekarang kadang banyak, kadang sedikit, tergantung kondisi cuaca,” ujarnya.
Dalam sehari, dari sekitar 30 pohon yang disadap, ia rata-rata hanya mampu menghasilkan sekitar 10 kilogram gula kelapa. Produksi tersebut sangat bergantung pada jumlah nira yang terkumpul dari setiap pohon.
Aktivitas menyadap dilakukan dua kali dalam sehari. Pada dini hari sekitar pukul 03.00 WIB, penderes mulai memasang wadah penampung pada bunga kelapa untuk menampung air nira. Setelah itu, kegiatan kembali dilakukan pada sore hari sekitar pukul 14.00 WIB untuk mengganti dan mengambil hasil sadapan.
Meski hasil produksi tidak selalu stabil, para penderes tetap menjalankan pekerjaannya dengan tekun. Air nira yang diperoleh kemudian diolah menjadi gula kelapa murni menggunakan cara tradisional. Proses pengolahan dilakukan setiap hari untuk menjaga kualitas dan kesegaran produk yang dihasilkan.
Gula kelapa murni tersebut sebagian besar dipasarkan dan dijual kepada warga di lingkungan sekitar. Saat ini harga jual gula kelapa murni mencapai Rp18 ribu per kilogram. Harga tersebut dinilai cukup membantu menopang kebutuhan keluarga, meskipun pendapatan yang diterima masih bergantung pada jumlah produksi harian.
Profesi sebagai penderes bukanlah pekerjaan baru baginya. Ia telah menekuni pekerjaan menyadap kelapa sejak tahun 2005 dan hingga kini masih bertahan menjalankannya. Selama lebih dari dua dekade, berbagai tantangan telah dihadapi, mulai dari risiko saat memanjat pohon kelapa hingga perubahan cuaca yang berpengaruh terhadap hasil produksi.
Menurutnya, pekerjaan sebagai penderes membutuhkan ketelatenan dan kedisiplinan tinggi. Selain harus bangun sejak dini hari, para penyadap juga harus memastikan kondisi pohon tetap baik agar menghasilkan nira berkualitas.
Meski menghadapi berbagai kendala, semangat untuk mempertahankan usaha pembuatan gula kelapa tradisional tetap terjaga. Selain menjadi sumber penghasilan keluarga, usaha tersebut juga menjadi bagian dari warisan kearifan lokal yang masih bertahan di tengah perkembangan zaman.
Para penderes berharap kondisi cuaca dapat kembali normal sehingga hasil air nira meningkat dan produksi gula kelapa kembali stabil. Dengan demikian, pendapatan para penyadap dan perajin gula kelapa tradisional dapat kembali membaik serta terus menjadi penopang ekonomi masyarakat pedesaan.






