KABAR PANGANDARAN – Hipertensi atau tekanan darah tinggi merupakan kondisi medis ketika tekanan darah terhadap dinding arteri berada di atas batas normal. Penyakit ini sering disebut silent killer karena kerap tidak menimbulkan gejala, namun dapat memicu berbagai komplikasi serius seperti penyakit jantung, stroke, hingga gagal ginjal.
Secara medis, seseorang dinyatakan mengalami hipertensi apabila tekanan darahnya berada di atas 140/90 mmHg. Kondisi ini akan dianggap parah atau masuk kategori krisis hipertensi jika tekanan darah sudah mencapai 180/120 mmHg, sehingga memerlukan penanganan medis segera.
Dokter Umum Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Pandega Pangandaran, dr. Fikri Dian Dinu Azizah, menjelaskan bahwa berdasarkan penyebabnya, hipertensi dibagi menjadi dua jenis yang umum terjadi, yaitu hipertensi primer dan hipertensi sekunder.
“Hipertensi primer adalah jenis hipertensi yang berkembang secara perlahan dari waktu ke waktu tanpa penyebab yang dapat diidentifikasi secara jelas,” ujar dr. Dian.
Ia menambahkan, ada beberapa faktor yang dapat menyebabkan seseorang mengalami hipertensi. Salah satunya adalah faktor genetik atau keturunan, yang termasuk ke dalam risiko yang tidak dapat diubah.
“Jika seseorang memiliki riwayat keluarga dengan hipertensi, maka risiko terkena tekanan darah tinggi akan lebih besar,” jelasnya.
Selain faktor yang tidak bisa diubah, dr. Dian juga menyebutkan adanya faktor risiko yang masih dapat dikendalikan, terutama yang berkaitan dengan pola hidup tidak sehat.
“Penyakit hipertensi itu memiliki dua kelompok risiko, yaitu risiko yang bisa diubah dan yang tidak bisa diubah. Risiko yang tidak bisa diubah di antaranya adalah faktor genetik dan usia, terutama saat seseorang menginjak usia 60 tahun ke atas. Sementara risiko yang bisa diubah umumnya berkaitan dengan pola hidup tidak sehat,” katanya.
Penyebab Hipertensi
Berikut beberapa faktor utama yang dapat memicu terjadinya hipertensi:
Faktor genetik atau keturunan
Mutasi atau kelainan genetik yang diwariskan dari orang tua dapat meningkatkan risiko seseorang mengalami hipertensi sejak usia muda.
Perubahan fisik akibat penuaan
Seiring bertambahnya usia, fungsi organ tubuh seperti ginjal dapat menurun. Hal ini menyebabkan gangguan keseimbangan garam dan cairan dalam tubuh, sehingga tekanan darah meningkat.
Pola hidup tidak sehat
Kebiasaan merokok, konsumsi makanan tinggi garam dan gula, kurang aktivitas fisik, serta gaya hidup sedentari menjadi penyebab hipertensi yang paling sering ditemukan.
Kondisi medis tertentu
Penyakit ginjal dan gangguan medis lainnya juga dapat memicu terjadinya hipertensi sekunder.
Cara Mengobati dan Mengendalikan Hipertensi
Pengobatan hipertensi pada dasarnya disesuaikan dengan usia pasien, kondisi kesehatan secara umum, serta tingkat keparahan tekanan darah tinggi yang dialami. Umumnya, dokter akan merekomendasikan perubahan gaya hidup yang dibarengi dengan penggunaan obat penurun tekanan darah.
Beberapa langkah yang dianjurkan untuk mengendalikan hipertensi antara lain:
Mengurangi asupan garam
Berhenti merokok
Rutin berolahraga
Mengelola stres dengan baik
Menghindari konsumsi alkohol
Menerapkan pola makan seimbang
Menjaga berat badan ideal
Mengonsumsi obat penurun tekanan darah sesuai anjuran dokter
dr. Dian menegaskan, pencegahan hipertensi sebaiknya dilakukan sedini mungkin, bahkan sebelum seseorang terdiagnosis mengalami tekanan darah tinggi.
“Meskipun saat ini sudah tersedia obat untuk hipertensi, pencegahan tetap menjadi langkah terbaik. Jika sudah terlanjur mengalami hipertensi, segera konsultasikan dengan dokter agar tekanan darah bisa dikontrol dan komplikasi dapat dicegah,” pungkasnya.






