KABAR PANGANDARAN – Upaya menurunkan Angka Kematian Ibu (AKI) di Indonesia masih menjadi tantangan besar dalam dunia kesehatan. Berbagai faktor, mulai dari keterlambatan mendeteksi komplikasi kehamilan hingga kurangnya pemahaman masyarakat tentang pentingnya pemeriksaan kehamilan secara berkala, masih menjadi penyebab tingginya risiko kematian ibu dan bayi.
Sebagai bentuk komitmen meningkatkan literasi kesehatan masyarakat, Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Pandega Pangandaran kembali menggelar program NGOBATAN (Ngobrol Bareng Seputar Kesehatan). Pada kegiatan edukasi yang berlangsung di ruang tunggu poliklinik tersebut, tema yang diangkat adalah pentingnya pemeriksaan kehamilan berkualitas atau Antenatal Care (ANC) sebagai langkah utama mencegah komplikasi selama masa kehamilan.
Bidan Senior RSUD Pandega Pangandaran, Dede Marliani, S.ST, menjelaskan bahwa pemeriksaan kehamilan bukan sekadar untuk mengetahui perkembangan janin atau melihat jenis kelamin bayi melalui pemeriksaan ultrasonografi (USG). Lebih dari itu, ANC bertujuan mendeteksi secara dini berbagai faktor risiko yang dapat membahayakan ibu maupun janin.
“Hamil itu bukan hal sepele, bukan coba-coba, melainkan tonggak sejarah bagi generasi bangsa,” ujar Dede di hadapan peserta edukasi.
Menurutnya, berdasarkan standar pelayanan kesehatan yang berlaku di Indonesia, setiap ibu hamil dianjurkan menjalani pemeriksaan minimal enam kali selama masa kehamilan. Dari jumlah tersebut, sedikitnya dua kali pemeriksaan dilakukan oleh dokter spesialis obstetri dan ginekologi, yakni pada trimester pertama dan trimester ketiga, guna memastikan kondisi ibu dan janin tetap dalam keadaan sehat serta mendeteksi kemungkinan adanya komplikasi.
Dalam kesempatan tersebut, Dede juga menjelaskan pentingnya pelayanan kehamilan yang memenuhi standar 14 T, yaitu rangkaian pemeriksaan komprehensif yang meliputi pengukuran berat badan, tekanan darah, tinggi fundus uteri, penentuan posisi janin, pemberian imunisasi tetanus, pemeriksaan laboratorium, hingga edukasi kesehatan kepada ibu hamil.
Ia menegaskan bahwa seluruh tahapan tersebut bertujuan mendeteksi secara dini gangguan kesehatan seperti anemia, preeklamsia, gangguan pertumbuhan janin, hingga penyakit penyerta yang dapat meningkatkan risiko saat persalinan.
Selain pemeriksaan di fasilitas kesehatan, Dede mengingatkan pentingnya pemanfaatan Buku Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) sebagai media pemantauan perkembangan kehamilan. Buku tersebut berisi catatan pemeriksaan medis sekaligus panduan kesehatan yang dapat dipelajari oleh ibu maupun anggota keluarga.
Menurutnya, keterlibatan suami memiliki peran yang sangat penting dalam menjaga kesehatan ibu selama masa kehamilan. Suami diharapkan aktif mengantar istri menjalani pemeriksaan rutin, memahami isi Buku KIA, serta memberikan dukungan selama proses kehamilan hingga persalinan.
Tidak kalah penting, setiap ibu hamil juga diwajibkan menjalani pemeriksaan laboratorium untuk mendeteksi Triple Eliminasi, yaitu skrining terhadap infeksi HIV, sifilis, dan Hepatitis B. Pemeriksaan ini bertujuan mencegah penularan penyakit dari ibu kepada bayi sehingga penanganan dapat dilakukan sedini mungkin apabila ditemukan hasil positif.
Selain itu, ibu hamil dengan kondisi kekurangan gizi maupun obesitas juga memerlukan pemantauan lebih intensif karena memiliki risiko lebih tinggi mengalami komplikasi kehamilan, gangguan pertumbuhan janin, hingga perdarahan saat persalinan.
Melalui program NGOBATAN, RSUD Pandega Pangandaran berharap masyarakat semakin memahami pentingnya pemeriksaan kehamilan secara rutin, deteksi dini faktor risiko, serta perencanaan persalinan yang matang. Dengan pemeriksaan yang berkualitas dan dukungan keluarga, diharapkan angka kematian ibu dan bayi dapat terus ditekan, sehingga lahir generasi yang sehat, kuat, dan berkualitas.












